Berbagi Itu Indah

Latest Post

Graduation
Di setiap pojok madrasah akhir-akhir ini dipenuhi oleh senyuman kebahagiaan dari para siswa lulusan Aliyah. Pasalnya, mereka akan berubah status dari siswa menjadi “Mahasiswa” yang kondangnya menjadi status yang paling menegangkan dan penuh dengan pengalaman baru. Perbincangan pun menjadi semakin ramai di media sosial ketika salah satu teman mereka lolos masuk di salah satu kampus idaman mereka. ucapan selamat serta doa dari teman, orang tua hingga para guru mengiringi perjalanan mereka.


Namun para lulusan aliyah ini harus menyadari bahwa status yang akan mereka sandang dalam waktu dekat ini sangat menentukan kehidupan mereka kelak. Teringat pada salah satu ungkapan “Pilihan di masa mudamu menentukan arah di masa tuamu”. Ungkapan tersebut tidak terlalu berlebihan jika dikaitkan dengan pilihan jurusan perkuliahan yang akan mereka ambil, karena sejatinya pada fase ini anak manusia harus memiliki keterampilan khusus sesuai dengan kemampuan dan keinginannya. Terlebih pada masa sekarang, semua bidang kehidupan mulai dari pendidikan, sosial, budaya, hingga ekonomi ditentukan oleh Keterampilan khusus (Skill) yang kita miliki. Mungkin sangat berbeda pada era tahun 90-an yang beberapa lini kehidupan berorientasikan pada ijazah.

Atas dasar pemikiran di atas maka dirasa sangat penting sekali bagi para pemuda khususnya lulusan aliyah yang akan masuk pada Perguruan Tinggi untuk mengetahui 5 anjuran ini :

1. Sesuai dengan keputusan Mahkamah Konstitusi UU. nomor 40 tahun 2009 tentang Kepemudaan bahwa usia pemuda dimulai dari usia 15 sampai pada usia 30 tahun

2. شبان اليوم رجال الغد (عظة الناشئين)
Para orang tua pada saatnya akan dipanggil oleh Allah, pada saat itu pula posisi mereka akan digantikan oleh kita para pemuda. jika ketepatan orang tua kita berprofesi sebagai petani maka sudah seharusnya kita menjadi Boss petani, jika ketepatan orang tua kita berprofesi menjadi guru TPQ maka sudah selayaknya kita bisa menjadi Pengasuh TPQ dan begitu seterusnya. hal ini menjadi wajib hukumnya bagi seorang anak untuk menjadi lebih baik dari orang tuanya, karena setiap anak yang tidak bisa menjadi lebih baik dibandingkan orang tuanya maka niscaya orang tua akan merasa GAGAL DALAM MENDIDIK KITA..!

3. كل مولود يولد على الفطرة (الحديث)
Selaras degan pendapat Jhon lock dalam teori tabularasa, manusia terlahir selayaknya kain putih bersih tanpa coretan sedikitpun. dengan berjalannya waktu, kain tersebut akan digambar oleh orang tua, lingkungan dan pendidikan. Teori ini terbukti membuat para pemuda terlena. mereka terlalu bangga dengan status sosial yang dimiliki oleh keluarganya yang mapan, baik berprofesi sebagai direktur, guru, kyai atau bahkan anggota dewan. ingatlah wahai para pemuda, jika seandainya kita tidak menjadi anak bapak yang mapan maka kita bukanlah siapa-siapa. maka dari itu, kita harus bisa membanggakan orang yang selalu mendukung kita dan selalu berusaha menjadi lebih baik dari mereka.

4. ينبغي على طالب العلم ان يجتهد كثيرا وعليه الهمة العلية (تعليم المتعلم)
Teryata disekitar kita masih banyak kita dapatkan pemuda yang belum memilki tujuan atau cita-cita dalam hidup, untaian kalimat diatas menunjukan bahwa seorang pemuda yang berkapasitas sebagai pencari ilmu harus memiliki tujuan hidup yang jelas. Syaikh Az-zarnuji pengarang kitab Ta’lim Muta’allim menjelaskan dalam sebuah Syair, yang artinya, “manusia tanpa tujuan hidup tak ubahnya mayat hidup yang berjalan diatas bumi”.

5. وشاورهم في الامر فاذا عزمت فتوكل على الله (القران الكريم)
Pepatah madura menyebutkan “mon apolong bereng reng juel minyak, pasteh norok beunah”, yang artinya: jika berkumpul dengan penjual minyak wangi niscaya akan tertular harumnya. Ungkapan ini menjelaskan bahwa pemuda harus berteman dengan orang yang telah berhasil dalam hidupnya (orang Sholeh) atau bahkan pemuda harus mempunyai komunitas kumpulan orang-orang baik dengan mengikuti kegiatan kegiatan positif yang dapat menunjang pada masa depannya

Saling berwasiat dalam kebaikan dan kesabaran

Minanur Rohman Muhsinin

”Cinta yang hanya mengenai sebagian kecil saja dari kehidupan yang luas, maka belumlah bertemu dengan hakikat cinta”
(Hamka)

http://4.bp.blogspot.com/-DcWPPcj_LLw/U9nQWcm5Y4I/AAAAAAAAAHo/MSbe6sw8uJk/s1600/dream.jpg Cinta? Ya, cinta. Yang mengubah dunia menjadi indah. Yang membuat para psikolog & filosof pusing memikirkan apa itu cinta? Kata mufassir Indonesia, Hamka, bahwa “Keindahan ada karena ada cinta.” Ya! Kalau kita rasakan cinta memang indah. Oh tidak! Tapi sangatlah indah. Kata ahli nahwu cinta itu bagaikan susunan Idhafah, yang mana mudhaf tanpa mudhaf ilaihi belumlah menjadi sempurna dan indah maknanya. Jika para Fisikawan beda lagi, cinta adalah pancaran gelombang elektromagnetik yang panjang gelombangnya tak terbatas. Kalau kata orang Inggris bagaimana? Mungkin I love you....Para sufi bilang, alam ini di ciptakan dengan cinta. Setiap awal surah al-Qur’an diawali dengan ayat-ayat cinta—Bismillahirrahmnirrahim; dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. Itulah sebuah password untuk membuka rahasia cinta di alam semesta. Segala yang menggambarkan keindahan; syair, musik, lukisan, adalah laksana rumus untuk membuktikan adanya Yang Rahman & Yang Rahim. Tanpa pusing-pusing sampai tujuh keliling memaknai apa itu cinta? Karena tidak akan tau apa itu cinta, jika tidak merasakan sendiri nikmatnya bercinta dan keindahan bercinta. Sependapat dengan Ibnu Arabi, ”barang siapa yang mendefinisikan cinta, maka dia sebenarnya tidak tahu apapun tentang cinta”. Maka dari itu mari kita bahas saja, siapa yang akan kalian cintai? Dari mana kalian akan bercinta? Apakah dari kebaikan ortu? Atau... dari kecantikan dan keindahan seorang wanita? Kalian berhak memilih siapa yang kalian cintai dan darimana saja kalian memulai, tapi itu semua bukanlah cinta (baca; cinta hakiki), itu semua hanyalah jembatan menuju cinta. Tahukah kalian tentang filosofis kehidupan itu seperti apa? Kata filosof amatir, tapi moderen “Hidup ini bagaikan sebuah pohon apel yang subur & bagus.” Kalau begitu kamu mencintai yang mana? Mencintai buahnya? Mencintai bunganya? Atau hanya mencintai batangnya? Kalau kamu hanya mencintai itu, lantas bagaimanakah dengan rantingnya? Bagaimana dengan daunnya yang memiliki paranan penting dalam peroses fotosintesis? Bagaimana dengan akar-akarnya? Dan bagaimana pula dengan yang lainnya? Yang memiliki hubungan dan fungsi yang sangat penting dalam pertumbuhannya. Jika sebuah apel yang manis berhak memperoleh cintamu, atau hanya sepucuk daun yang indah telah memperoleh cinta darimu, maka yang lain pun berhak memperoleh cintamu, termasuk ulat dan lingkungan tempat tumbuhnya pohon apel tersebut. Hamka berkata bahwa,”Cinta yang hanya mengenai sebagian kecil saja dari kehidupan yang luas, maka belumlah bertemu dengan hakikat cinta”. Jika kamu masih bingung siapa pohon kehidupan tersebut? Maka tidak usah bingung-bingung, pohon itu adalah diri kita. Maka cintailah diri kamu sendiri, jangan hanya sebagian karena diri kamu adalah satu, satu unit, satu kesatuan. Itulah teori dasar untuk mencari cinta yang hakiki. Janganlah lupa! Kembangkanlah teori tersebut, karena teori itu masih sebuah teori dasar. Lanjutkan dengan cara mencintai lingkungan sekeliling dan makluk di sekitar kamu. Kalau ada burung yang bertengger di rantung-ranting pohon kehidupan, jangan kamu usir, jangan kamu benci, karena burung tersebut menyenandungkan syair-syair cinta dengan suara-suara musik cinta dan nada-nada cinta yang membuat hati kamu cepat bereaksi untuk meraih cinta hakiki. Begitu juga dengan ulat-ulat yang memakan buahnya yang masak dan manis, menggrogoti daun-daunnya, janganlah kamu bunuh dan jangan kamu benci!. Bingung ya? Saya katakan tidak usah bingung-bingung. Karena adanya ulat, burung-burung merasa diundang dan betah untuk bermain dan bertengger di ranting-ranting pohon kehidupan. Cinta tidak pernah putus dengan yang namanya kebencian ada relasi antara keduanya. Kalau kata Hamka, ”Yang tuan cintai tidaklah pernah putus dengan yang tuan benci, laksana hubungan jantung tuan dengan dada tuan”

Cinta seorang laki-laki kepada seorang perempuan atau seorang perempuan kepada seorang laki-laki, belumlah dinamakan cinta (Baca;cinta hakiki). Itu adalah rumus penting untuk menemukan jalan menuju cinta. Cinta Ummi-Aba pada anaknya, juga belumlah dinamakan cinta. Karena itu masih hasil sementara dari rumus cinta. Bertemunya badan laki-laki dan perempuan yang memuaskan hasrat masing-masing, belum tentu dinamakan cinta. Semuanya boleh kamu buktikan, kecuali yang bagian ahir, karena khusus buat yang sudah menikah. Lantas dimanakah cinta—cinta hakiki—itu? Oke kita lanjutkan; Kalau ada pohon apel, pasti ada yang menjadikan tumbuh dan berkembang dari biji sampai subur dan berbuah. Siapakah dia? Dia tidak lain adalah Zat Yang Mutlak, Sang Maha Rahman & Rahim. Oleh karena itu jika kamu bilang “Aku cinta diriku sendiri”, maka cintailah Dia. Atau kamu bilang “Aku cinta Dia”, maka cintailah dirimu sendiri. Tokoh sufi terkenal—Jalaluddin Rumi—barkata ”Aku pernah berpikir bahwa cinta dan yang dicintai itu berbeda. Kini aku mengerti bahwa keduanya sama.” Kalau bahasa jawanya manunggaling kawula Gusti (yang dipopulerkan oleh Syaikh Siti Jenar). Jika kamu telah sampai pada hal tersebut, kamu akan menjadi apa yang telah dikatakan hadits “Apabila Aku (Allah) mencintainya, maka Aku menjadi telinganya yang dengannya dia mendengar, menjadi matanya yang dengannya dia melihat”. Gampang kan? Cukup dengan modal cinta kamu bisa mendapatkan cinta sang kekasih. Tapi sebenarnya tidak segampang itu, walaupun kamu bilang “aku cinta Dia!” karena cinta bukanlah sekedar ucapan, melainkan upaya aktif demi kebahagiaan atau keinginan sang kekasih. Cinta merupakan nikmat yang palimg tinggi dari Sang Rahman Rahim. Karena itu semoga kita memperoleh nikmat & indahnya cinta agar bisa bercinta dengan sang kekasih, amin..... Bila kamu bertanya pada penulis “kamu sang pecinta ya?” Penulis akan berkata “Bukan! Tapi aku adalah arjuna, pencari cinta”. Ihdinâ ash shirâth al-mustaqîm! Âmin!

Wallahu A’lam![]

by : Kang Zain

(I)
MINHAJUL ARIFIN

Karya ini merupakan salah satu dari karya kecil, -namun bukan kecil kalau dari segi makna karena mengandung makna yang dalam- dari Imam Al Ghazali. Sebagaimana masyhurnya beliau sebagai salah seorang Imam dalam bidang tasawuf, kitab ini menjabarkan bidang tersebut, bergenrekan tasawuf.

Karya ini mungkin banyak yang belum mengenalnya, karena memang bukan termasuk diantara karya-karya beliau yang masyhur dan banyak dikaji. Hampir mirip dengan judul karya beliau yang terkenal dan banyak dikaji di pesantern, Minhajul Abidin, kitab ini berjudulkan "Minhajul Arifin". Bermaknakan "Jalan Para Arif", kitab ini menjelaskan tentang para Arif, (seorang yang mengenal Tuhannya) dalam menempuh perjalanan, tata berperilaku dan beribadah dalam kehidupan.

Seperti pada hampir semua kitab tasawuf, beliau penulis menuturkannya dengan menggunakan bahasa esoterik, menggunakan isyarat-isyarat dan simbol-simbol untuk menyapaikan makna. Karena memang pada bahasa esoterik mengandung karakter yang tidak akan difaham secara tekstual, sehingga kemudian beralihlah pemahaman yang tidak lagi hanya bergantung pada kata-kata. Namun lebih masuk lagi pada rasa dan hati. fungsi inilah yang mungkin dimanfaatkan oleh para guru sufi dalam menyampaikan makna tasawuf yang sangat dalam serta melebihi kata-kata ataupun juga logika. Dengan membuka pintu rasa dan kemudian hati, para guru membawa para murid menuju kedalam makna yang tersembunyi pada kesunyian. Semoga bermanfaat.


(JALAN PARA 'ARIF)
Bismillahirrahmanirrahim
PENDAHULUAN RISALAH

Segala pujian adalah milik Allah. Dialah yang menyinari hati para arif dengan dzikir kepada-Nya. Dia menjadikan lisan-lisan mereka bisa berbicara dengan bersyukur pada-Nya, dan memerintahkan angota- angota badan mereka untuk menjadi khadam (pelayan)-Nya. Oleh karena itu, pada taman al unsu (kedamaian besama Allah), mereka merasa serba cukup. Menuju ke sarang-sarang cinta (mahabbah), saling menyayangi. Dia mengingat mereka, mereka pun ingat pada-Nya. Dia mencintai mereka, mereka pun mencintai-Nya. Dia meridhai mereka. mereka pun meridhai-Nya. Modal amal-amal mereka ialah sifat fakir (sangatnya bergantung pada Allah) dan bangunan urusan mereka ialah sifat keterdesakan. Dia telah mengajari mereka akan obat dari dosa-dosa. Dia telah mengajarkan pada mereka tentang obatnya hati. Merekalah lentera-lentera cahaya hujjah (bukti kuat tentang)-Nya dan kunci gudang-gudang hikmah-Nya. Pemimpin mereka adalah bulan yang terbit dan pemuka mereka adalah cahaya yang berkilauan, tuan dari para tuan dan bangsa arab, yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib.

Buahnya yang suci dari pohon yang di berkahi--yang berpokok pada tauhid. Cabangnya adalah taqwa. "(Pohon zaitun) yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya). Minyaknya hampir-hampir (saja) menerangi, walaupun tidak tersentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing menuju cahaya-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah menjadikannya sebagai perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. an-Nuur: 35) " Barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah maka tidak akan dia mempunyai cahaya sedikit pun." (QS. an-Nuur: 40).

Semoga shalawat atas Nabi. Shalawat yang terang benderang, berbekas pada langit-langit dan mulia di surga yang abadi. Beritanya mewangi dalam penyaksian (musyahadah) para Nabi. Dan shalawat juga semoga dipersembahkan kepada keluarganya yang suci beserta para sahabatnya yang di sucikan.


Tak Ada Dosa Untuk Hamba ?

Dimana Kalam itu berada ???
Tiada kutemui dalam hati kosong ini,
Tak ada waktu buatku melupa
akan semua dosa di dada..

Engkau yang tau akan semua
Berkehendak atas kebaikan sang pemuda.
Jika Engkau akan siksa atas keburukanku..
Kenapa Kau ciptakan diriku tuk nikmati rahmat-Mu ??

Kenapa Kau ciptakan aku untuk melakukan dosa ??
Sedang Engkau tak ridlo akan dosa.
Jangan salahkan aku jika tak dapat meresapi
Karena hanya Engkau dapat memberi ...

Jika Engkau harapkan kebaikan atas hamba-Mu
Jangan biarkan aku jatuh dalam durhaka kepada-Mu,
Tuhan hanya satu kepada-Mu
Akhirkan hayat ini dalam rahmat-Mu.



Mujadi Sahal.
18/06/13.



Hai Kasih, kau buatku Bingung...
Aduhai Malam, kau buatku makin Linglung...
Aduhai Amarah, kau hancurkan hal yang Terarah...
Hai Egois, kau buatku terlihat Sadis...
Kau Cinta ~ kau kuanggap paling Aneh...?

Selamat pagi Optimis yang selalu Terkikis.
Sudahkah Sarapan,..? hai Malas yang selalu Lapar..
Selamat Siang, kau semangat yang semakin berkarat.
Selamat Sore, Sedih tentang harapan yang Pedih...

By. Santritaraz (Sahal M.)

Dikisahkan pada suatu hari, Guru Sufi yang terkenal, Ibrahim bin Adham didatangi oleh seseorang yang layak disebut sebagai ‘ahli maksiat’ karena sudah sekian lama ia hidup dalam kemaksiatan, sering mencuri, selalu menipu dan merampok, suka minum khamr, dan tidak pernah bosan berzina.
Ahli maksiat ini berniart untuk tobat dan mengadu (curhat) serta meminta nasehat kepada Ibrahim bin Adham,

Nasehat Untuk Pemunda yang Ahli Maksiat
"Wahai tuan guru, aku seorang pendosa yang rasanya idtak mungkin bisa keluar dari kubangan maksiat. Tapi, tolong ajari aku seandainya ada cara untuk menghentikan semua perbuatan-ku yang sangat tercela selama ini?"

Ibrahim bin Adham menjawab, "Baik anak muda, Kalau kamu bisa selalu berpegang pada lima hal ini, niscaya kamu akan terjauhkan dari segala perbuatan dosa dan maksiat.
“Apa 5 hal yang Anda maksudkan itu Tuan Guru?”

“Yang pertama, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, maka usahakanlah agar Allah jangan sampai melihat perbuatanmu itu."
Ahli maksiat itu terperangah, "Bagaimana mungkin, Tuan guru, bukankah Allah selalu melihat apa saja yang diperbuat oleh siapapun? Allah pasti tahu walaupun perbuatan itu dilakukan dalam kesendirian, di kamar yang gelap, bahkan di lubang semut sekalipun."

Wahai anak muda, kalau yang melihat perbuatan dosa dan maksiatmu itu adalah tetanggamu, kawan dekatmu, atau orang yang kamu hormati, apakah kamu akan meneruskan perbuatanmu? Lalu mengapa terhadap Allah kamu tidak malu, sementara Dia melihat apa yang kamu perbuat?"
Ahli maksiat itu lalu tertunduk dan berkata,"katakanlah yang kedua, Tuan guru!"
Ibrahim bin Adam kemudian melanjutkan nasehatnya,

“Kedua, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, maka jangan pernah lagi kamu makan rezeki Allah."
Pendosa itu kembali terperangah, "Bagaimana mungkin, Tuan guru, bukankah semua rezeki yang ada di sekeliling manusia adalah dari Allah semata? Bahkan, air liur yang ada di mulut dan tenggorokanku adalah dari Allah jua."
Ibrahim bin Adham menjawab, "Wahai anak muda, masih pantaskah kita makan rezeki Allah sementara setiap saat kita melanggar perintahNya dan melakukan laranganNya? Kalau kamu numpang makan kepada seseorang, sementara setiap saat kamu selalu mengecewakannya dan dia melihat perbuatanmu, masihkah kamu punya muka untuk terus makan darinya?"
"Sekali-kali tidak Tuan Guru!” kata Ahli maksiat itu.
“Sekarang katakanlah yang ketiga, Tuan guru."

Ibrahim bin Adam melanjutkan,”Ketiga, kalau kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, janganlah kamu tinggal lagi di bumi Allah."
Sekali lagi ahli maksiat itu tersentak, "Bukankah semua tempat ini adalah milik Allah, Tuan guru? Bahkan, segenap planet, bintang dan langit adalah milikNya juga?"
Ibrahim bin Adham menjawab,"Kalau kamu bertamu ke rumah seseorang, numpang makan dari semua miliknya, akankah kamu cukup tebal muka untuk melecehkan aturan-aturan tuan rumah itu sementara dia selalu tahu dan melihat apa yang kamu lakukan?"
Ahli maksiat itu kembali terdiam, air matanya menetes perlahan dari kelopak matanya lalu berkata,
“Aku mohon katakanlah yang keempat, Tuan guru."
“Baik anak muda” Ibrahim bin Adam melanjutkan,

“Yang keempat, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, dan suatu saat malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu sebelum kamu bertobat, tolaklah ia dan janganlah mau nyawamu dicabut."
“Bagaimana mungkin itu terjadi, Tuan guru? Bukankah tak seorang pun mampu menolak datangnya malaikat maut?"
Ibrahim bin adham menjawab, "Kalau kamu tahu begitu, mengapa masih jua berbuat dosa dan maksiat? Tidakkah terpikir olehmu, jika suatu saat malaikat maut itu datang justru ketika kamu sedang mencuri, menipu, berzina dan melakukan dosa lainnya?"
Nampak air mata menetes semakin deras dari kelopak mata ahli maksiat tersebut, kemudian ia berkata,
"Wahai tuan guru, mohon katakanlah hal yang kelima."

“Kelima, jika kamu masih akan berbuat dosa, dan tiba-tiba malaikat maut mencabut nyawamu justru ketika sedang melakukan dosa, maka janganlah mau kalau nanti malaikat Malik akan memasukkanmu ke dalam neraka. Mintalah kepadanya kesempatan hidup sekali lagi agar kamu bisa bertobat dan menambal dosa-dosamu itu."
Ajli maksiat itupun berkata, "Bagaimana mungkin seseorang bisa minta kesempatan hidup lagi, Tuan guru? Bukankah hidup hanya sekali? “
Ibrahim bin Adham pun lalu berkata, "Oleh karena hidup hanya sekali anak muda, dan kita tidak pernah tahu kapan maut akan menjemput kita, sementara semua yang telah diperbuat pasti akan kita pertanggung jawabkan di akhirat kelak, apakah kita masih akan menyia-nyiakan hidup ini hanya untuk menumpuk dosa dan maksiat?"
Seketika ahli maksiat itupun langsung pucat, dan dengan surau parau menahan ledakan tangis ia mengiba, "Cukup, Tuan guru, aku tak sanggup lagi mendengarnya. Jangan kau teruskan lagi. Aku tidak sanggup lagi mendengarnya. Aku berjanji, mulai saat ini aku akan beristighfar dan bertaubat nasuha kepada Allah.” "

Lalu ia pun beranjak pergi meninggalkan Ibrahim bin Adham. Dan sejak saat itu, orang-orang mengenal kemudian bahwa ahli maksiat itu telah melakukan tobat yang benar-benar tobat (taubatan nasuha) dan menjadi seorang ahli ibadah yang menjalankan ibadah dan semua perintah-perintah Allah dengan baik dan khusyu’ serta menjauh dari perbuatan-perbuatan tercela yang dahulu selalu ia kerjakan.

Bandung, In Memoriam. renungan Inspiratif
semoga bisa kita jadikan muhasabah diri kita masing-masing

 Sumber Tulisan : http://ainulmardhiyah.abatasa.co.id/

Dalam pandangan kita ada yang memandang atau berpendapat bahwa syari’at itu bisa disamakan atau identik dengan istilah fikih. Memang syari’at dan fikih juga tidak dapat dipisahkan dan saling berkaitan, namun syari’at berbeda dari fikih. Fikih adalah pemahaman, penafsiran, dan penjelasan terhadap syari’at. Fikih terikat dengan situasi dan kondisi yang melingkupinya. Fikih senantiasa berubah seiring dengan perubahan waktu dan tempat. Karena itu nama fikih bisa diambil dari nama mujtahid yang merumuskannya, misalkan Fikih Hanafi atau biasa kita kenal dengan 4 Madzhab dalam Ilmu Fikih yaitu, Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad Ibnu Hambal.

Adapun makna madzhab secara istilah yang digunakan dalam Ilmu Fikih, didefinisikan sebagai:
ما ذهب إليه إمام من الأئمة في الأحكام الإجتهادية

Artinya: Pendapat yang diambil oleh seorang imam dari para imam dalam masalah yang terkait dengan hukum-hukum ijtihadiyah.
Pendapat yang diambil oleh seorang imam ini kemudian diikuti oleh muridnya dari generasi ke generasi, inilah yang kemudian dikenal sebagai Madzhab Fikih.

Dalam pengertian syari’at sendiri, syari’at adalah segala yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi SAW dalam bentuk wahyu yang ada dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW. Ditinjau dari segi bahasa, syari’at berarti jalan atau tempat keluarnya air untuk diminum. Bangsa Arab cenderung mengartikan kata ini sebagai jalan lurus yang harus diikuti.

Secara umum ada 2 golongan yang mendefinisikan syari’at.
- Golongan yang pertama melihat syari’at dari aspek hukumnya. Golongan ini mendefinisikan syari’at sebagai hukum dan tata aturan yang disyari’atkan Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya untuk diikuti.
- Adapun golongan kedua melihat syari’at identik dengan agama itu sendiri. Menurut golongan ini, syari’at berarti segala ketentuan Allah SWT yang diperintahkan bagi hamba-hamba-Nya, baik menyangkut akidah, ibadah, akhlak, maupun mu’amalah.

Tujuan utama syari’at adalah memelihara dan mewujudkan kemashlahatan dan menghindari kerusakan.

AGAMA dan SYARI’AT 
Pada mulanya syari’at diartikan sebagai agama, namun kemudian pengertian syari’at dikhususkan untuk hukum yang bersifat praktis, pengkhususan ini dimaksudkan untuk membedakan agama dari syari’at. Agama itu satu dan berlaku secara universal karena syari’at antara umat yang satu dan umat yang lain berbeda sesuai dengan adat dan tradisinya. Selain itu, syari’at bersifat abadi dan menjangkau setiap zaman untuk selama-lamanya hingga hari kiamat. Dalam perkembangan selanjutnya, kata “syari’at” digunakan untuk menunjukkan hukum Islam, baik yang ditetapkan langsung oleh Al-Qur’an dan Sunnah, maupun yang diperoleh melalui pemikiran dan ijtihad.

Pada Hakikatnya, sumber hukum syari’at Islam adalah wahyu ilahi. Wahyu ilahi itu dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu wahyu yang berupa Al-Qur’an dan Sunnah. Umat Islam harus tunduk kepada ketentuan Al-Qur’an dan Sunnah tersebut.

HUKUM SYARI’AT
Apabila ditinjau dari aspek hukum, syari’at Islam mencakup dua hal. : 
- Pertama, hukum yang ditetapkan oleh nas Al-Qur’an dan Sunnah. Hukum ini merupakan dasar syari’at secara keseluruhan.

- Kedua, Hukum yang ditetapkan melalui ijtihad ulama’ ahli fikih. Hukum ini merupakan wilayah kajian ilmu fikih dan bidang yang digarap oleh ulama’ ahli fikih. Melalui metode ijtihad, para ulama’ merumuskan ketentuan yang terperinci menyangkut perilaku manusia, yang bisa dikelompokkan ke dalam lima kategori hukum : wajib, sunah, haram, makruh, dan mubah. Seluruh perbuatan manusia senantiasa berada dalam salah satu dari 5 (lima) kategori hukum itu.

Wallahua’lam bishshawab.


Semoga artikel ini bisa bermanfa’at bagi saya khususnya, dan kita semua sebagai umat islam.
semakin menambah wawasan kita akan dunia Islam.

kritik dan saran kami harapkan untuk kemajuan blogg ini, semoga semakin lebih baik dan berkembang.

>Referensi
- Ensiklopedi Islam Untuk Pelajar Jilid 5, Ade Armando, Ahmad Gaus A.F, Edi Sudrajat, dkk., PT Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2006
- http://ahmadsudardi.blogspot.co.id/2013/02/empat-madzhab-fiqih.html
- Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget